Patofisologi untuk penyakit stroke sendiri berbeda – beda sesuai dengan jenis stroke nya. Mengutip dari laman AloMedika (https://www.alomedika.com/penyakit/neurologi/stroke) tentang stroke, berikut penjelasan tentang patofisiologi stroke.
1. Stroke Iskemik
Infark serebri diawali dengan terjadinya penurunan Cerebral Blood Flow (CBF) yang menyebabkan suplai oksigen ke otak akan berkurang. Nilai kritis CBF adalah 23 ml/100 gram per menit, dengan nilai normal 50 ml/100 gram per menit. Penurunan CBF di bawah nilai normal dapat menyebabkan infark. Suatu penelitian menyebutkan bahwa nilai CBF pada pasien dengan infark adalah 4,8-8,4ml/100 gram per menit.
Patofisiologi
stroke iskemik dibagi menjadi dua bagian: vaskular dan metabolisme. Iskemia
terjadi disebabkan oleh oklusi vaskular. Oklusi vaskular yang menyebabkan
iskemia ini dapat disebabkan oleh emboli, thrombus, plak, dan penyebab lainnya.
Iskemia menyebabkan hipoksia dan akhirnya kematian jaringan otak. Oklusi
vaskular yang terjadi menyebabkan terjadinya tanda dan gejala pada stroke
iskemik yang muncul berdasarkan lokasi terjadinya iskemia. Sel-sel pada pada
otak akan mati dalam hitungan menit dari awal terjadinya oklusi. Hal ini
berujung pada onset stroke yang tiba-tiba.
Gangguan
metabolisme terjadi pada tingkat selular, berupa kerusakan pompa natrium-kalium
yang meningkatkan kadar natrium dalam sel. Hal ini menyebabkan air tertarik
masuk ke dalam sel dan berujung pada kematian sel akibat edema sitotoksik.
Selain pompa natrium-kalium, pertukaran natrium dan kalsium juga terganggu.
Gangguan ini menyebabkan influks kalsium yang melepaskan berbagai
neurotransmiter dan pelepasan glutamat yang memperparah iskemia serta mengaktivasi
enzim degradatif. Kerusakan sawar darah otak juga terjadi, disebabkan oleh
kerusakan pembuluh darah oleh proses di atas, yang menyebabkan masuknya air ke
dalam rongga ekstraselular yang berujung pada edema. Hal ini terus berlanjut
hingga tiga sampai 5 hari dan sembuh beberapa minggu kemudian. Setelah beberapa
jam, sitokin terbentuk dan terjadi inflamasi.
Akumulasi asam laktat pada jaringan otak bersifat
neurotoksik dan berperan dalam perluasan kerusakan sel. Hal ini terjadi apabila
kadar glukosa darah otak tinggi sehingga terjadi peningkatan glikolisis dalam
keadaan iskemia.
Stroke
iskemik dapat berubah menjadi stroke hemorrhagik. Perdarahan yang terjadi tidak
selalu menyebabkan defisit neurologis. Defisit neurologis terjadi apabila perdarahan
yang terjadi luas. Hal ini dapat disebabkan oleh rusaknya sawar darah otak,
sehingga sel darah merah terekstravasasi dari dinding kapiler yang lemah.
2. Stroke Hemorrhagik
Untuk stroke hemorrhagik dibagi menjadi perdarahan
intraserebral dan perdarahan subaraknoid.
a. Perdarahan
Intraserebral
Pada perdarahan intraserebral,
perdarahan masuk ke dalam parenkim otak akibat pecahnya arteri penetrans yang
merupakan cabang dari pembuluh darah superficial dan berjalan tegak lurus
menuju parenkim otak yang di bagian distalnya berupa anyaman kapiler. Hal ini
dapat disebabkan oleh diathesis perdarahan dan penggunaan antikoagulan
seperti heparin,
hipertensi kronis, serta aneurisma.
Masuknya darah ke dalam parenkim otak
menyebabkan terjadinya penekanan pada berbagai bagian otak seperti serebelum,
batang otak, dan thalamus. Darah mendorong struktur otak dan merembes ke
sekitarnya bahkan dapat masuk ke dalam ventrikel atau ke rongga subaraknoid
yang akan bercampur dengan cairan serebrospinal dan merangsang meningen. Hal
ini menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang menimbulkan tanda dan
gejala seperti nyeri kepala hebat, papil edema, dan muntah proyektil.
b. Perdarahan
Subaraknoid
Lokasi perdarahan umumnya terletak
pada daerah ganglia basalis, pons, serebelum dan thalamus. Perdarahan pada
ganglia basalis sering meluas hingga mengenai kapsula interna dan kadang-kadang
ruptur ke dalam ventrikel lateral lalu menyebar melalui sistem ventrikuler ke
dalam rongga subaraknoid. Adanya perluasan intraventrikuler sering berakibat
fatal.
Komentar
Posting Komentar