I. TUJUAN
1. Mahasiswa mengetahui golongan darah seseorang sesuai dengan system ABO
2. Mahasiswa mengetahui golongan darah seseorang sesuai dengan system Rhesus
3. Mahasiswa mengetahui cara atau metode untuk penentuan golongan darah
II. DASAR TEORI
Sebelum tahun 1901, diperkirakan semua golongan darah adalah sama. Kondisi tersebut mendorong terjadinya reaksi transfusi yang fatal sampai menyebabkan kematian. Sampai pada tahun 1901, ditemukannya sistem golongan darah ABO oleh Karl Landstainer, seorang ilmuwan berkebangsaan Austria yang menyatakan bahwa setiap individu mempunyai karakteristik golongan darah yang dibedakan menjadi golongan darah grup A,B, dan O. Selanjutnya, pada tahun 1902, Alfred Decastello dan Adriana Sturli menemukan golongan darah AB, yang melengkapi sistem golongan darah ABO. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa transfusi darah tidak boleh dilakukan pada dua orang dengan golongan darah berbeda. (Maharani dan Noviar. 2018)
Sistem golongan darah Rh merupakan golongan darah utama selain ABO. Jenis golongan darah ini wajib diperiksa pada pemeriksaan pre-transfusi. Golongan darah Rh pertama kali ditemukan karena adanya reaksi transfusi pada seorang ibu yang melahirkan. Anak yang dilahirkan mengalami eritroblastosis fetalis (kelainan sel darah sehingga terjadi lisis eritrosit berlebih). Serum ibu tersebut mengaglutinasi sel darah yang ditransfusikan yang berasal dari suaminya, walaupun keduanya mempunyai golongan darah ABO yang sama. Ternyata, kematian bayi tersebut dan reaksi transfusi yang terjadi pada ibu, berhubungan. Selama kehamilan, ibu tersebut telah terekspos sel darah merah dari janin yang dikandungnya, dan sistem imun ibu membuat 2 Ab terhadap Ag dari sel darah merah bayi yang mempunyai Ag yang sama dengan ayah. Pada tahun berikutnya, Landsteiner dan Wiener menemukan bahwa serum kelinci yang telah diimunisasi dengan sel darah merah dari kera Macacus rhesus dapat mengaglutinasi sel darah merah manusia. Ag dan Ab tersebut diberi nama Rhesus. Akan tetapi, jenis Ag dan Ab tersebut berbeda dengan yang ditemukan pada kasus awal yaitu ibu yang melahirkan bayi eritroblastosis fetalis, walaupun pada awalnya jenis Ag dan Ab tersebut dianggap sama. Ab yang dihasilkan oleh ibu tersebut berbeda dengan Ab Rhesus. Karena sebutan Rhesus sudah digunakan luas, daripada mengganti nama, maka dipilihlah nama Rh untuk jenis Ab yang terbentuk di dalam darah Ibu tersebut. (Maharani dan Noviar. 2018)
Selain golongan darah ABO dan Rh, masih terdapat beberapa jenis golongan darah lainnya yang penting untuk dipelajari terkait dengan reaksi yang dihasilkan karena transfusi darah ataupun kehamilan. Seperti diketahui, bahwa membran sel darah terdiri atas berbagai macam molekul protein, karbohidrat maupun lemak. Molekul permukaan sel ini dapat berperan sebagai Ag dengan merangsang respon imun jika ditransfer ke individu lain. Protein / Ag membran sel darah diturunkan secara genetik, dan ada yang memberikan fungsi spesifik pada sel darah, seperti : Ag Rh yang berfungsi untuk mempertahankan integritas sel darah merah. Jenis golongan darah tersebut, yaitu golongan darah Rh, Duffy, Kidd, Lutheran, Lewis, dan sebagainya. Saat ini, International Society of Blood Transfusion (ISBT) telah mengklasifikasikan 33 sistem golongan darah. (Maharani dan Noviar. 2018)
III. METODE PEMERIKSAAN
Aglutinasi
IV. PRINSIP
Antigen yang ada pada darah akan bereaksi dengan antisera pada reagen yang akan menimbulkan aglutinasi.
V. HASIL PEMERIKSAAN
Terjadi aglutinasi pada Anti-B, Anti AB dan Anti D, sehingga probandus memiliki golongan B Rhesus +.
IX. PEMBAHASAN
Pemeriksaan atau penentuan golongan darah ini mengacu pada prinsip aglutinasi. Aglutinasi dapat terjadi, karena di eritrosit terdapat antigen α dan antigen β. Antigen ini akan bereeaksi dengan antibodi yang ada didalam serum. Setiap golongan darah memiliki struktur antigen dimana struktur tersebut berfungsi untuk membedakan darah. (Arthur, 1997)
Golongan darah ABO pada manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, yaitu golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Golongan darah B memiliki antigen B di permukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B di permukaan eritrositnya serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B dalam serum darahnya. Sedangkan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tetapi dalam serumnya terdapat antibodi terhadap antigen A dan B. (Nadia et al,2010 : Darmawati. 2019).
Dari hasil pemeriksaan pada kali ini didapatkan bahwa terjadi reaksi aglutinasi pada campuran darah dengan Antisera B dan AB, yang mana apabila mengacu pada teori diatas maka pasien memiliki golongan darah B. Selain ABO golongan darah juga bisa ditentukan menurut Rhesus nya. Rhesus (Rh) merupakan protein khusus (antigen D) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Orang dengan rhesus positif (Rh+), memiliki antigen rhesus. Sebaliknya, rhesus negatif (Rh-) tidak memiliki antigen rhesus. Orang dengan Rh+ memiliki antigen Rh di dalam sel darah merah. Rh+ dapat menerima Rh+ maupun Rh-. Pada pemeriksaan kali ini sampel darah pasien yang telah dicampur dengan Antisera D mengalami aglutinsi, yang menandakan bahwa Rhesus darah pasien adalah positif. 5 Golongan darah Rh pertama kali ditemukan karena adanya reaksi transfusi pada seorang ibu yang melahirkan. Anak yang dilahirkan mengalami eritroblastosis fetalis (kelainan sel darah sehingga terjadi lisis eritrosit berlebih). Serum ibu tersebut mengaglutinasi sel darah yang ditransfusikan yang berasal dari suaminya, walaupun keduanya mempunyai golongan darah ABO yang sama. Ternyata, kematian bayi tersebut dan reaksi transfusi yang terjadi pada ibu, berhubungan. Selama kehamilan, ibu tersebut telah terekspos sel darah merah dari janin yang dikandungnya, dan sistem imun ibu membuat Ab terhadap Ag dari sel darah merah bayi yang mempunyai Ag yang sama dengan ayah. Terdapat risiko reaksi imun ketika sel darah sang ibu menghancurkan sel darah bayinya karena dianggap sebagai benda asing. Kondisi ini dikenal dengan istilah inkompatibilitas rhesus. Aglutinasi sel darah merah dapat berlangsung melalui dua tahapan. Tahap pertama antibodi berikatan dengan permukaan sel darah merah, tahap kedua antibodi berinteraksi dengan sel darah merah sehingga selsel saling berdekatan dan terjadilah aglutinasi. Tahap pertama aglutinasi dipengaruhi oleh suhu, pH medium, konstanta afinitas antibodi, waktu atau lama inkubasi, kekuatan ion pada medium, dan rasio antigen antibodi. Tahap kedua aglutinasi dipengaruhi oleh jarak antar sel, muatan molekul dalam suspensi, deformitas membran, molekul permukaan membran dan struktur molekul (McCullough, 2012).
Menurut buku Laboratorium Pratransfusi Up Date Universitas Udayana ada beberapa factor yang memengaruhi reaksi antigen antibody pada pemeriksaan golongan darah. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi antigen dan antibodi pada pemeriksaan golongan darah.
1. Muatan ion sel darah merah
Bila sel darah merah disuspensikan dalam larutan elektrolit, maka ion positif akan ditarik oleh muatan negatif pada sel darah merah, sehingga sel darah merah tersebut akan dikelilingi oleh 2 lapisan yang diffuse (Zeta Potensial). Bila ada antibodi yang menempel pada sel darah merah, maka sel darah merah akan mengurangi muatan negatif pada permukaannya, sehingga memungkinkan sel tersebut saling mendekat satu sama lainnya. 6 Karena antibodi tersebut bivalent, maka mereka akan membentuk jembatan antara sel yang satu dengan sel yang lainnya (Depkes RI, 2008)
2. Temperature
Antibodi yang berbeda mempunyai kemampuan bereaksi secara optimal pada suhu yang berbeda juga. Sebagai contoh antibodi golongan darah ABO bereaksi optimal pada suhu 4℃ sedangkan antibodi Rhesus bereaksi optimal pada suhu 37℃ (WHO, 2009).
3. pH
Sebagian besar antibodi golongan darah dapat bereaksi secara optimal pada pH 6,5 sampai 7,5. Reaksi akan dihambat apabila pH terlalu asam atau terlalu alkalis (WHO, 2009).
4. Rasio antigen antibody
Rasio antigen dan antibodi sangat penting dalam menentukan kuat lemahnya reaksi. Semakin banyak antibodi yang berikatan dengan antigen yang ada pada permukaan eritrosit maka reaksi yang terjadi akan semakin kuat. Penting untuk memastikan keakuratan suspensi sel darah merah yang disiapkan karena suspensi sel yang terlalu pekat akan sedikit mengikat antibodi sehingga reaksi yang muncul lebih lemah. Suspensi sel yang dianggap mampu memberikan reaksi optimal pada tes aglutinasi adalah suspensi sel 2-5% (WHO, 2009).
5. Usia serum dan eritrosit sampel
Reaksi yang paling baik umumnya didapatkan jika menggunakan sampel serum dan eritrosit segar. Untuk alasan tersebut disarankan selalu menggunakan sel darah merah segar atau menyimpan serum pada suhu -20 o C atau suhu lebih rendah apabila tidak segera digunakan (WHO, 2009).
6. Kekuatan ionic
Kecepatan terjadinya reaksi antigen-antibodi dapat ditingkatkan jika kekuatan ionik pada medium untuk mensuspensikan sel darah merah menurun. Penggunaan Low Ionic Strength Solution (LISS) dapat mengurangi periode inkubasi pada anti-human globulin test selama 15 menit (WHO, 2009).
Mengetahui jenis golongan darah penting untuk keperluan transfusi darah. Sebelum dikelompokkan seperti sekarang, para dokter mengira semua darah sama. Karena itu, jaman dulu banyak orang yang meninggal karena transfusi darah. Pemeriksaan ini juga diperlukan bagi wanita hamil. Seorang ibu yang memiliki golongan darah rhesus negatif dan suami bergolongan darah rhesus positif kemungkinan melahirkan anak dengan golongan darah rhesus positif. Selain untuk transfusi/donor darah dan pemeriksaan pada ibu hamil mengetahui golongan darah juga bisa membantu kita saat akan akan menjalani operasi, akan mendonorkan organ untuk transplantasi, juga bisa untuk membantu proses hukum guna memeriksa identitas seseorang yang melakukan tindak pidana dan untuk menunjukkan hubungan keluarga.
Komentar
Posting Komentar